Pengertian Jihad

- Dari segi bahasa (etimologi), secara simpel jihad berarti bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga untuk mencapai satu tujuan. Dalam hal ini seseorang yang bersungguh-sungguh dalam mencari jejak bisa dikategorikan jihad.

- Dari segi istilah, jihad berarti bersungguh-sungguh memperjuangkan hukum Allah, menda’wahkannya serta menegakkannya.

- Dari segi Syar’i, jihad berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Pengertian syar’i ini lebih dikenal dengan sebutan ‘jihad fii sabilillah’.

Kalo ga salah, ketiga definisi di atas telah menjadi ijma’ (konsensus) para ulama salafush shalih, terutama dari kalangan empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Jadi, tidak ada perselisihan pendapat pendefinisian jihad dalam hal ini.

Jika yang ingin mengkaji lebih mendalam tentang hal ini,
dapat membaca buku berjudul Al-Jihaadu Sabiilunaa (Jihad Jalan Kami) karya Syaikh Abdul Baqi Ramdun. Juga Kitaabul Jihaad, karya Syaikh Ibnul Mubarak, atau Fii At-Tarbiyah Al-Jihaadiyah Wal-Binaa (Pendidikan dan Pembinaan Jihad) karya Syaikh Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam. Atau bisa juga buku-buku lain yang berhubungan dengan jihad serta ditulis oleh ulama-ulama yang berkompeten dan terlibat aktif dalam dunia jihad (Ulama ‘Aamiliin).

Dalam kaitan dengan peristiwa bombing di Bali, pengertian ketiga (Jihaad fii sabiilillaah) lebih tepat dan pas untuk kita bahas dan analisis.

BOM BALI = JIHAAD FII SABIILILLAAH

Berdasarkan niat atau rencana target, jelas bom Bali merupakan jihaad fii sabiilillaah, karena yang jadi sasaran utama adalah bangsa-bangsa penjajah seperti Amerika dan sekutunya. Ini menjadi semakin jelas dengan adanya pembantaian massal terhadap ummat Islam di Afghanistan pada bulan Ramadhan tahun 2001 yang disaksikan oleh hampir seluruh ummat manusia di segala penjuru bumi. Bangsa-bangsa penjajah pembantai kaum lemah dan bayi-bayi tak berdosa itulah yang disebut kaum musyrikin (kaum kafir) yang berhak diperangi sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

“….dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa, Jika engkau tidak berangkat (untuk berjihad) maka Dia (Allah) akan mengadzabmu dengan adzab yang besar, dan menggantikan dengan kelompok selain kalian, dan kalian sekali – kali tidak dapat memberikan kejelekan pada mereka. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (At Taubah: 36)

“Berangkatlah baik dalam keadaan ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta
dan jiwa kalian fie sabilillah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika
kalian mengetahuinya.” [At-Taubah: 41]

About these ads
    • bujang
    • November 11th, 2008

    Jika benar ayat yang tertera dalam alquran begitu, berarti amrozi cs yang mengebom bali termasuk jihad fie sabilillah….???wallahualam, semua hanya allah yang tau, apakah korban yang dibali termasuk kaum musyrikin…:(

  1. Sepertinya kalau kita beragama muslim, kita harus yakin donk dengan alquran :)

    • reza
    • November 12th, 2008

    jihad fisabilillah memang sangat dianjurkan bagi semua umat muslim,

    • abdullah
    • November 12th, 2008

    Menurut saya, peristiwa bom bali tidak ada kaitannya dengan jihad fisabilillah, karena korban bom bali tidak semua yang membunuh orang2 muslim, sebagaimana yang terjadi di afghanistan dan irak. :-P

    • kopi paste
    • November 13th, 2008

    “kopi paste”

    “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk,” (QS At-Taubah: 29).
    Salah satu contoh dari terorisme yang “berbaju” agama adalah apa yang dilakukan oleh Imam Samudra, dkk dalam aksi bom di Bali. Imam Samudra dalam bukunya Aku Melawan Teroris (2004) dengan bangga dan tanpa dosa mengakui perbuatan biadabnya di Bali dan mengganggap perbuatan tersebut adalah jihad fisabilillah. Imam Samudra secara jelas dan rinci mengakui bahwa yang mereka lakukan adalah melawan musuh-musuh Islam yang ada di Bali, padahal korban dari perbuatan mereka, justru banyak menimpa kaum Muslim. Mereka menjadikan penderitaan Muslim Palestina sebagai dasar dari tindakan mereka dan perbuatan mereka di Bali adalah upaya balas dendam atas perbuatan orang non-Islam di Palestina. Pola berfikir ala Imam Samudra ini adalah suatu kebodohan, emosional dan sesat.

    Aksi Imam Samudra dkk dalam beberapa kasus pemboman, berpijak pada dalil Alquran. Ayat-ayat Alquran yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakannya adalah ayat-ayat berikut: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk,” (QS At-Taubah: 29).
    “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. At-Taubah: 5).
    “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya,” (QS. At-Taubah : 73).
    Berdasarkan ayat-ayat di atas, Imam Samudra berkeyakinan bahwa mereka diwajibkan berperang melawan orang-orang kafir di mana pun mereka berada. Kewajiban berperang dengan orang-orang non-Islam dilakukan sampai tercapai dua tujuan, yakni tidak ada kemungkaran di muka bumi dan terlaksananya hukum Islam secara sempurna. (Ibid, h. 134).
    Imam Samudra tidak menyadari bahwa ayat-ayat yang mereka kutip sebagai pembenaran atas tindakan mereka di Bali adalah ayat-ayat yang penuh muatan kondisi lokal saat ayat itu turun dan ayat itu bukanlah pesan universal Alquran sehingga penerapan ayat-ayat tersebut harus disesuaikan dengan kondisi masa sekarang. Ayat-ayat di atas (dalam kitab tafsir Ibnu Katsir disebut dengan ayat-ayat Saif—ayat-ayat yang memerintahkan perang) turun dikala kaum Muslim sedang ditindas oleh kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya, dan jalan keluar satu-satunya dari masalah tersebut adalah dengan perang.
    Menurut Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah, 2004, vol. II, h. 529-531) perintah membunuh orang-orang musyrik (QS At-Taubah [9]: 5) adalah mereka yang mengganggu dan menganiaya kaum Muslim, tidak berlaku bagi mereka yang tidak menggangu kaum Muslim. Perintah untuk memerangi ahl al-Kitab (QS At-Taubah [9]: 29) bukan karena perbedaan keyakinan keberagamaan (bukan karena mereka tidak masuk Islam), tapi disebabkan ahl al-Kitab pada waktu itu berjuang bahu-membahu dengan bangsa romawi memerangi kaum Muslim (Ibid, h. 603). Sedang perintah untuk memerangi kaum munafik (QS At-Taubah [9]: 73) disebabkan mereka adalah duri dalam daging, mereka senantiasa membantu menghancurkan kaum Muslim dari dalam dan membantu mush-musuh Islam. Inilah alasan Allah Swt. memerintah Nabi Muhammad Saw. untuk memerangi kaum Muslim.
    Dalam menafsirkan ayat-ayat saif hendaknya melihat asbab an-nuzul-nya, jangan hanya mengambil makna literal-nya tanpa memahami sejarah turunnya ayat-ayat tersebut. Menurut Farid Esack (2000: 86), Alquran tidaklah datang dari ruang hampa, tapi Alquran merespon situasi dan kondisi kaum Muslim serta bagaimana hubungan kaum Muslim dengan kaum yang lain. Esack—mengutip pendapat Al-Maududi—mengatakan bahwa kandungan Alquran, secara keseluruhan erat terkait dengan cita rasa dan tempramen, lingkungan dan sejarah, serta adat dan kebiasaan Arab. Jadi ayat saif harus kita pahami dalam konteks lokal partikular, bukan membawa pesan-pesan universal Alquran.
    Sedangkan menurut Quraish Shihab, izin memerangi kaum kafir bukan karena kekufuran atau keengganan mereka memeluk Islam, tapi karena penganiayaan yang mereka lakukan terhadap “hak assasi manusia untuk memeluk agama yang dipercayainya” (Wawasan Al-Quran, 1996: 517). Dengan demikian, maka aksi yang dilakukan oleh Imam Samudra di Bali adalah perang yang “tidak sah” atau tidak dianjurkan oleh Islam, karena korban yang terbunuh akibat oleh mereka—bahkan ada juga yang beragama Islam—adalah orang tak berdosa yang tidak memerangi kaum Muslim.
    Imam Samudra (2004: 134) menganggap bahwa mereka berkewajiban untuk berperang dengan orang non-Islam di manapun mereka berada sampai mereka mengucapkan kata “laa ilaaha ilallaah”. Pendapat seperti ini jelaslah tidak ada pijakannya dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad Saw. beserta Khulafa’ Ar-Rasyidun menghargai dan menghormati orang-orang non-Islam, bahkan Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang menggangu orang kafir dzimmi sama saja dengan menggangguku. Barangsiapa yang menggangguku bearti telah menggangu Allah Swt.,” (Al-Hadits). Dalam khazanah fikih klasik kita akan menemukan adanya kafir harbi (orang kafir yang bermusuhan dengan umat Islam) dan kafir dzimmi (orang kafir yang tidak bermusuhan dengan umat Islam). Imam Samudra menganggap wajib diperangi tanpa pengecualian, maka dengan sendirinya ia sudah melanggar syariat Islam.
    Islam sangat menghargai nyawa manusia, perbuatan Imam Samudra dkk adalah dosa besar dan perbuatan yang melanggar prinsip dasar agama Islam. Dalam Alquran, dosa membunuh seseorang yang tidak bersalah sama dengan dosa membunuh semua umat manusia. “…Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya,” (QS. Al-Maidah: 32).
    Jelaslah, bahwa pemahaman yang salah terhadap Alquran; tidak melihat Alquran secara keseluruhan, adalah penyebab lahirnya sikap radikal yang bermuara pada aksi-aksi terorisme. Kita tetap waspada dan kritis terhadap orang-orang yang memakai simbol-simbol agama. Janganlah hanya melihat suatu kelompok dengan pakaian yang mereka gunakan, yang terkesan islami dan sakral, jika perbuatannya tidak bermanfaat dan menebarkan kebencian dan permusuhan. Demikian juga, jangan tergoda dengan ucapan manis, bersemangat, dan diikuti dengan sumpah demi Allah, jika perbuatan mereka jauh dari kebenaran dan hanya mencari populeritas, kekuasaan dan kekayaan. Cukuplah bagi kita, orang-orang, pemimpin dan ulama yang berkata apa yang diperbuatnya sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadist serta menjaga kedamaian dan keselamatan. Kita berlindung dari kebodohan dan kejahatan orang-orang yang selalu menjadikan agama sebagai tameng dari aksi-aksi biadabnya.
    Wallahualambisshawab.

    • viera
    • November 13th, 2008

    Amrozi cs telah menghilangkan nyawa ratusan orang, bagaimana jika diantara yg tewas adalah keluarga mereka? cobalah untuk berjihad dari diri sendiri dulu dan pahami makna jihad yg sebenarnya. Lagipula apa sudah ada data yg akurat klo orang-orang yang tewas pada saat bom bali itu semuanya kaum musyrikin, Bagaimana jika ada salah seorang dari mereka adalah orang yang tidak berdosa yg kebetulan ada pada saat kejadian?
    Wallahualam, cuma allah yg tau akan niat mereka yg sebenarnya dan dia lah yg berhak memutuskan mereka mati syahid atau tidak.

  2. bukanya islam melarang untuk berbuat kekerasan???bukankah jihad itu berjuang di jalan allah!!!berarti hanya allah yang tahu perbuatan amrozi jihad atau tidak

    • sumi
    • November 20th, 2008

    Saya sangat setuju dengan pendapat indah, karena didunia ini yang maha tau segalanya adalah Allah. tidaka ada yang tau selain beliau…

  3. Sangat bermakna bag! Manusia. .

    • Brokiest
    • Desember 20th, 2010

    TERORIST ndas kleng!

  4. terorost adalah orang orang yg beriman tapi tak ber ilmu… allah lebih suka orang yg berilmu daripada org yg ber iman….

    • kiky kuncuro yuni
    • Oktober 31st, 2012

    Sebagai muslim harus tegakkan JIHAD.. biar yang hidup itu hanya muslim dan taat kepada ALLAH …. lihat ARAB SAUDI berapa banyak berkah yang didapat dari HAJI, UPETI, KUNJUNGAN WISATA tanpa harus promosi kan…??? Dunia akan aman ( tanpa penghuni) kalau semua MUSLIM ( Karena perang terus ) wkwkwkwkw

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: